Satgaswil Densus 88 AT Polri Sosialisasi Pencegahan Bahaya Radikalisme di Karo
- calendar_month Kam, 25 Sep 2025
- visibility 92
- comment 0 komentar

Satgaswil Densus 88 Anti Teror Polri sosialisasi Pencegahan Bahaya Radikalisme dan Terorisme yang digelar oleh Badan Kesbangpol Provinsi Sumut bekerja sama dengan Kesbangpol Kabupaten Tanah Karo di Aula Van Hall, Jalan Samura, Kabupaten Karo, Kamis (25/9/2025)(Foto dok/ Humas Polres Karo).
KARO (tri3news.com) – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Sumatera Utara Sosialisasi Pencegahan Bahaya Radikalisme dan Terorisme yang digelar oleh Badan Kesbangpol Provinsi Sumut bekerja sama dengan Kesbangpol Kabupaten Tanah Karo di Aula Van Hall, Jalan Samura, Kabupaten Karo, Kamis (25/9/2025)
Kegiatan diikuti sekitar 200 siswa SMA/SMK, mahasiswa, serta 10 guru pendamping dari berbagai sekolah di Tanah Karo. Hadir pula sejumlah pejabat, di antaranya Kepala Bidang Wasnas dan Penanganan Konflik Kesbangpol Sumut Emir Mahbob Lubis SSTP MAP, Ketua FKDM Sumut Dr. Zulkarnain, MA ICAP dan Kepala Kesbangpol Tanah Karo Tetap Ginting.
Kasatgaswil Sumut Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Dr Didik Novi Rahmanto SIK MH menegaskan bahwa meskipun situasi terlihat kondusif, aktivitas kelompok radikal masih berjalan secara tersembunyi, terutama dengan menyasar generasi muda.
“Perekrutan bisa terjadi melalui media sosial, penyebaran berita hoaks, bahkan melalui game online. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk lebih kritis, tidak mudah terpengaruh, serta mampu menjadi duta pencegahan di lingkungan sekolah maupun kampus,” ujarnya.
Ia juga menyinggung fenomena global seperti konflik internasional yang kerap dijadikan narasi oleh kelompok radikal untuk memengaruhi pola pikir generasi muda.
Menurutnya, terorisme modern tidak selalu ditandai dengan penampilan tertentu, melainkan bisa dilihat dari perubahan pola interaksi sosial di masyarakat.
Sementara itu, Dr. Zulkarnain dalam materinya menyampaikan bahwa radikalisme dan terorisme memiliki keterkaitan erat.
“Seorang teroris pasti memiliki paham radikal, walau tidak semua yang radikal menjadi teroris. Yang penting adalah membentengi diri dengan pemahaman kebangsaan dan nilai budaya yang kuat,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, para siswa dan mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan seputar hubungan radikalisme dengan terorisme dan strategi pencegahan.(R3)



Saat ini belum ada komentar