Protes Iran Memanas, 65 Korban Jiwa dan Aksi Meluas ke 31 Provinsi
- calendar_month Ming, 11 Jan 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar

Para pengunjuk rasa berkumpul saat kendaraan terbakar, di tengah kerusuhan anti-pemerintah yang terus berkembang di Teheran, Iran, dalam cuplikan layar yang diperoleh dari video media sosial yang dirilis pada 9 Januari 2026. (Foto/Dok/Int)
IRAN (tri3news.com) – Jumlah korban jiwa akibat gelombang protes di Iran dilaporkan meningkat menjadi 65 orang. Data tersebut disampaikan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Sabtu.
Dalam laporan itu disebutkan aksi demonstrasi telah berlangsung selama 13 hari berturut-turut dan meluas secara masif ke berbagai wilayah di Iran.
HRANA mencatat, protes terjadi di 512 lokasi di 180 kota yang tersebar di 31 provinsi. Dari total korban jiwa, 50 orang merupakan demonstran, 14 aparat penegak hukum dan keamanan, serta satu warga sipil yang berafiliasi dengan pemerintah.
Selain korban jiwa, demonstrasi juga menyebabkan ribuan orang terdampak, dengan rincian 2.311 orang ditahan dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Menurut HRANA, mayoritas luka yang dialami korban disebabkan oleh peluru karet dan peluru plastik yang ditembakkan aparat keamanan.
Hingga laporan ini disampaikan, pihak berwenang Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jumlah korban jiwa maupun korban luka akibat aksi demonstrasi tersebut.
Gelombang protes di Iran pecah sejak akhir Desember lalu. Aksi massa ini dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Demonstrasi pertama kali terjadi pada 28 Desember di sekitar Grand Bazaar Teheran, sebelum kemudian menyebar ke sejumlah kota besar dan wilayah lain di negara tersebut.
Di tengah eskalasi protes, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran sedang berada dalam “masalah besar” seiring meluasnya aksi demonstrasi. Ia menegaskan Amerika Serikat terus memantau situasi dan memperingatkan agar aparat tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap massa.
Sementara itu, pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik memanasnya situasi. Sejumlah pejabat Iran memperingatkan bahwa aparat keamanan dan lembaga peradilan tidak akan menoleransi tindakan yang dianggap sebagai upaya sabotase. (R1).



Saat ini belum ada komentar