Lewati ke konten
Thursday, 22 October 2026
EKONOMI & BISNISBerita terbaru

IMF Peringatkan Ekonomi Asia Melambat, Pertumbuhan 2027 Diproyeksi 4,4 Persen

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia turun menjadi 4,4 persen pada 2027 akibat tekanan harga energi, tingginya imbal hasil obligasi global dan risiko sektor AI.

Direktur Asia Pasifik IMF Krishna Srinivasan membahas prospek pertumbuhan ekonomi Asia.
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan dalam agenda IMF. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia melambat menjadi 4,4 persen pada 2027. (Foto: IMF)
BagikanFacebookWhatsAppX

Oleh R1

BANGKOK (tri3news.com) – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia diperkirakan melambat dalam dua tahun mendatang akibat meningkatnya tekanan ekonomi global.

IMF memproyeksikan ekonomi kawasan Asia tumbuh sekitar 4,8 persen pada 2026 sebelum kembali melambat menjadi 4,4 persen pada 2027.

Angka tersebut lebih rendah dibanding pertumbuhan Asia sekitar 5 persen pada 2025. Reuters melaporkan perlambatan tersebut terjadi ketika negara-negara Asia menghadapi tekanan energi, suku bunga global, dan ketidakpastian perdagangan.

Harga Energi Jadi Tantangan

Salah satu tekanan terbesar terhadap perekonomian Asia berasal dari tingginya biaya energi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Sebagian besar negara Asia masih bergantung terhadap impor energi dari kawasan tersebut.

Kenaikan harga minyak dan gas dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi hingga inflasi.

Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan mengatakan kondisi tersebut membuat negara-negara Asia harus semakin berhati-hati dalam menjalankan kebijakan ekonomi.

Suku Bunga Global Jadi Risiko

IMF juga mengingatkan risiko dari tingginya imbal hasil obligasi global.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang ketika investor memilih aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara maju.

Akibatnya, nilai tukar sejumlah negara Asia dapat mengalami tekanan.

Kondisi keuangan yang ketat juga dapat meningkatkan beban pembiayaan pemerintah yang memiliki tingkat utang tinggi. Reuters melaporkan risiko tersebut menjadi perhatian dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia.

AI Masih Menopang Pertumbuhan

Di tengah berbagai risiko, perkembangan teknologi kecerdasan buatan masih menjadi salah satu faktor pendukung ekonomi Asia.

Investasi AI meningkatkan permintaan terhadap semikonduktor, pusat data, perangkat elektronik dan berbagai produk teknologi.

Meski demikian, IMF memperingatkan bahwa koreksi besar pada valuasi sektor AI dapat ikut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan.

IMF meminta bank sentral di Asia tetap menjaga stabilitas harga serta mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter.

Pemerintah juga dianjurkan menggunakan kebijakan fiskal secara lebih terarah, terutama dalam membantu kelompok masyarakat yang paling terdampak kenaikan harga energi.

Prospek tersebut disampaikan di tengah rangkaian pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand. (R1)

Exit mobile version