SAMPIT (tri3news.com) – Kabut asap pekat menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan membuat jarak pandang pengguna jalan turun tajam.
Video laporan warga yang diterima SumawaNews memperlihatkan ruas jalan tertutup asap. Perekam memperkirakan jarak pandang di lokasi hanya sekitar 10 meter. Perkiraan tersebut merupakan pengamatan visual, bukan hasil pengukuran resmi.
Data BMKG di Bandara H. Asan Sampit pada Kamis (22/10/2026) pukul 00.30 WIB mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 300 meter.
Kualitas udara Sampit masuk kategori berbahaya
Pada Rabu (21/10/2026), data Indeks Standar Pencemar Udara Kementerian Lingkungan Hidup yang dikutip iNews menunjukkan ISPU Sampit mencapai 1.502 pada pukul 08.00 WIB. Parameter yang menjadi perhatian ialah PM10.
Sejumlah warga mengeluhkan batuk, mata perih, sakit kepala dan sesak napas. Warga juga menyebut kabut asap telah dirasakan selama sekitar tiga bulan sehingga sebagian aktivitas luar ruangan dikurangi.
Jarak pandang dan penerbangan terdampak
Pengamatan BMKG Kotawaringin Timur pada 8 Oktober mencatat jarak pandang turun hingga 100 meter pada pagi hari. Kondisi serupa kembali dilaporkan pada 12 Oktober.
Kementerian Perhubungan mencatat 42 penerbangan dari dan menuju Bandara H. Asan Sampit dibatalkan sepanjang 1–14 Oktober 2026 akibat kabut asap. Rute yang terdampak antara lain Sampit–Jakarta, Sampit–Surabaya dan Sampit–Semarang.
Warga diminta menjaga kesehatan
Pengendara diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menggunakan lampu kendaraan sesuai kondisi, dan menghindari manuver mendadak. Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker yang mampu menyaring partikel halus, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan berat atau menetap.
Asap karhutla dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Kondisi di Sampit menunjukkan bahwa karhutla berdampak langsung pada keselamatan berkendara, kesehatan, transportasi dan aktivitas ekonomi warga.
Sumber: Laporan lapangan SumawaNews, BMKG, Kementerian Perhubungan, Kementerian Lingkungan Hidup/ISPUnet, iNews, dan Radar Sampit.
R1
